Selasa, 11 Mei 2010

Perlukah upacara dihapus ?

Masih inget banget waktu jamannya masih sekolah dulu , SD, SMP sampe SMA. tiap hari Senin mesti ada upacara bendera, tiap hari besar nasional juga, yang harusnya hari libur, tapi pagi-paginya kita harus dateng kesekolah untuk mengukuti upacara bendera, apalagi kalo pas 17 Agustusan, pasti deh dari lapangan akan terdengar teriakan "Kapada sang merah putih hormaaaaaaaaaaaat grakk!" sedetik kemudian “ Indonesia… tanah airku, tanah tumpah darahku..... regu paduan suara mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia raya untuk mengiringi dinaikkannya bendera merah putih kepuncak tiang.

Dan beberapa saat kemudian ”Upacara bendera akan meningkatkan disiplin siswa. Tanpa upacara bendera, mau jadi apa anak-anak kita. Kita harus bisa menghormati pahlawan nasional yang telah mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Upacara bendera wajib ada, jika kita ingin menjadi negara maju. Bangsa yang besar adalah yang bisa menghargai jasa para pahlawannya dan sebagai generasi muda, kalian adalah penerus pahlawan-pahlawan bangsa. Dan seterusnya …. dan seterusnya…. ”

Itulah sambutan pembina upacara untuk mengingatkan arti penting upacara bendera bagi seluruh peserta upacara. Dengan sangat bersemangat. Dia berharap anak-anak didiknya akan terpancing semangatnya untuk berupacara dengan hidmat.

Tapi apa yang terjadi pada barisan tengah kebelakang? mereka banyak yang bisik-bisik terus cekikikan... ada yang mulutnya komat-kamit sambil sesekali melihat catatan kecil yang dibawanya... rupanya dia sedang menghafal materi untuk ulangan yang akan dilaksanakan setelah upacara selesai, bahkan satu dua siswa ada yang pingsan karena tidak kuat kelamaan berdiri diterik matahari. Dan bagi anak yang bandel mereka akan pura-pura sakit dan memilih untuk tidur di UKS agar bisa terhindar dari upacara yang bagi mereka sangat menyiksa.

Nah kalo sudah seperti ini, apakah tujuan mulia upacara yang katanya untuk meningkatkan disiplin dan nasionalisme generasi muda akan bisa tercapai, tidakkah perlu dipikirkan cara lain yang lebih efektif untuk bisa menanamkan disiplin dan nasionalisme pada generasi muda tanpa harus memaksa para siswa berdiri berjam-jam dilapangan yang sangat menguras energi para siswa?

Ada berbagai pendapat tentang upacara, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju adanya upacara berikut beberapa pendapat tersebut :

1. Pendapat Guru (upacara militeristik)

(Mochamad Syafei Guru SMP negeri 135 Jakarta Timur) yang disampaikan di forum kompasiana tanggal 12 April 2010

”Ternyata upacara tak pernah menanamkan apa-apa kecuali rasa capai berdiri. Capai mendengarkan ocehan pembina upacara yang dulu waktu menjadi siswa juga belum tentu rajin ikut upacara. Tidak. Tidak menanamkan disiplin sebagaimana dilansir banyak orang yang memang mentalnya sudah terjangkiti si8kap militeristik. Masa upacara meningkatkan disiplin? Ada-ada saja!

Upacara bendera perlu ditinjau ulang. bahkan kalau perlu ditiadakan. Diganti kegiatan yang dapat menanamkan disiplin, bukan dengan kekerasan. Tapi dengan kesadaran. Disiplin tak mungkin muncul dari keterpaksaan. Disiplin yang muncul dari keterpaksaan, hanyalah disiplin palsu. Disiplin harus tumbuh dari dalam diri. Dari kesadaran. Bisakah? Pasti bisa.

Sentuhlah hatinya untuk disiplin. Biasakan. pelan-pelan saja. Tak perlu dipaksa-paksa. Apalagi yang namanya lembaga pendidikan. Tak boleh ada pemaksaan di sana.

Sudah saatnya untuk menghilangkan kegiatan upacara. Saat ini juga. jika kita menginginkan sikap militeristik menjangkit ke mana-mana.

Mari kita menjadi pribadi yang lebih maju. Yang membangun disiplin dari sisi kesadaran. membangun disiplin dari perspektif budaya.

STOP SIKAP MILITERISTIK !
HAPUS UPACARA BENDERA!”


2. Pendapat siswa (upacara nyebelin)

Disampaiakan oleh seorang siswa diblognya my school dengan postingan yang berjudul ”UPACARA NYEBELIN?’

”Saya ingin sekali menyuarakan tentang upacara bendera setiap hari senin yang banyak dikeluhkan siswa.Capek..panas..pegel,,bosan,,dan laen2.padahal jika dihayati betul upacara bendera itu ada seabrek manfaatnya.pembina selalu memberi nasehat kepada kita tentang fungsi upacara bendera.kita harus selalu mengenang jasa2 para pahlawan yang telah berjuang mati2anmembela tanah air tercinta indonesia.mungkin nasihat seperti itu ering disampaikan oleh penmbina dalam setiap pelaksanaan upacara bendera.banyak lho..manfaatnya,bila kita benar2 mengikutinya dengan serius.mungkin ketidakmauan kita mengikuti upacara bendera adalah karena belum terbiasa.dalam hal ini ngak hanya murid lho,,,,,,,,,,,,yang bisa disalahkan.tapi juga para guru& pembina yang sering salah kaprah yang memberi nasehat yang tak tentu arah.

sebaiknya pembina menyadari kalau upacara bendera banyak yang gak suka.sudah tahu kalau upacara itu membosankan malah ditambah dengan pidato yang gak tentu arah& tidak tentu arah.siswa juga sering jengkel dengan ulah guru karena mereka ngiri guru memperoleh tempat yang teduh &asyik ngobrol sendiri sambil tertawa.jadi upacara itu memeng sulit untuk menjadi pelajaran favorit baek oleh guru maupun oleh siswwa itu sendiri.”


3. Pendapat pemikir Islam (upacara bendera bertentangan dengan syariat islam)

katanyah, upacara ituh untuk menegakkan disiplin bangsa. upacara ituh menyimpan nilai moralitas dan nasionalisme yang tinggi untuk negara.

duluh mah waktu masih metal sayah asik2 ajah, lagian seru kok, apalagi kalo kebagian tugas jadi pengibar bendera, bangga gituh loh, mengibarkan bendera merah putih.

setelah berkecimpung di dunia pendidikan Islam, sayah dikasih tau kalo dalam upara bendera banyak hal2 yang bertentangan dengan syariat Islam. masa bendera aja dihormat-hormat, komandan upacara juga dihormat, dan katanyah engga ada manfaatnya sama sekali dari upacara bendera. so, yang tau sejarah pendirian sekolah Islam di Indonesia, pasti tau, engga ada yang namanya upacara bendera (termasuk di NF *sekolah islam terpadu pertama di Indonesia*)

pendapat yang lainnya lagi (saya kutip dari forum diskusi yahoo)

1. Sepengetahuan saya tidak ada dalil yang membolehkan mengibarkan bendera ataupun dalil yang melarang pengibaran bendera, yang terlarang adalh kita berlebihan terdahap bendera itu misalnya : menganggap bendera sakral

2. Menurut saya, mengibarkan bendera itu boleh. cuma yang perlu diperhatikan adalah antar lain, mungkin sebaiknya kita tidak mengibarkan bendera Cuma tgl 17 agustus saja, karena bisa menimbulkan anggapan bahwa tgl 17 Agustus itu sakral dan menimbulkan bid'ah. dan sikap kita terhadap bendera tidak boleh berlbihan apalagi sampai hormat. kalo diperhatikan dari buku2 sejarah yang pernah saya baca, terutama mengenai perjuangan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan para shahabatnya.di buku2 tersebut disebutkan ketika beliau berperang melawan orang2 kafir beliau membawa panji2 perang berupa bendera. itu mungkin itu menandakan bahwa mengibarkan bendera boleh tapi tetap ada batasannya baik pelaksanaannya maupun terhadap bendera itu senidiri.


4. Pendapatku.....?

Kalo menurut pendapatku, yang notabene sering pingsan saat ikut upacara, saya setuju banget upacara dihapus. Pengalaman aku dan mungkin juga pengalaman kamu yang paling menjengkelkan adalah upacara saat detik-detik proklamasi dimana para peserta sudah disuruh berbaris di alon-alon mulai jam 8 pagi sementara upacara baru dimulai jam 10, kebayangkan gimana capeknya berdiri selama 2 jam ditengah lapangan yang panas hanya untuk menunggu detik-detik proklamasi, akibatnya saat upacara baru dimulai satu-persatu peserta mundur kebelakang karena dah gak kuat berdiri bahkan ada beberapa yang pingsan, dan peserta dibarisan paling belakang yang masih bertahan dilapangan banyak yang duduk. Aku...? akhirnya aku pun memutuskan untuk mundur kebelakang dan tidur di mobil ambulan yang kebetulan perawatnya adalah temanku . Kalo sudah begini mungkinkah tujuan upacara untuk meningkatkan disiplin dan nasionalisme generasi muda akan bisa tercapai? Jawabannya ya jelas nggak lah! Isi pidato kenegaraan presiden tentang kepahlawanan dan patriotisme yang dibacakan Bupati yang paaaaannnnjang... dan laaaaaaama... saya yakin tak satupun masuk kekepala para peserta, karena yang ada dipikiran para pererta saat itu adalah kapan pidato ini selesai dibacakan, agar upacara segera bisa dibubarkan sambil meringis menahan panas dan pegelnya kaki. Alangkah lebih baiknya jika upacara hanya dilakukan di Istana negara dan pidato kenegaraan presiden itu di sampaikan melalui televisi dimana yangmendengarkan bisa sambil duduk bersantai dirumah, pasti akan maknanya akan lebih sampai.

Menurut aku menanamkan kedisiplinan, nasionalisme dan nilai-nilai kepahlawanan tidak harus disampaikan melaui upacara yang menguras energi, ada banyak cara yang lebih efektif dari itu, misalnya dengan memberikan tugas menulis tentang perjuangan para pahlawan, dengan membuat tulisan paling tidak mereka akan membaca jejak langkah para pahlawan dan dari situ mereka akan bisa memahami nilai-nilai kepahlawanan dan meneladaninya, daripada disampaikan lapangan upacara yang panas yang belum tentu mereka mendengarkannya. Serta menurut saya yang terpenting dalam menanamkan kedisiplinan adalah dengan memberikan teladan pada para siswa bukan dengan dipaksa melakukan upacara setiap Senin. Dan epertinya kewajiban untuk upacara tiap hari senin hanya ada dinegara kita deh, apalagi dinegara-negara maju, gak ada yang namanya siswa diwajibkan untuk upacara semacam itu, disana adanya hanya memorial day, atau sejenis. semacam acara mengingat tentara yg mati di peperangan dahulu, tapi tidak harus dengan berdiri dilapangan yang panas berjam-jam.






Itu sih menurut pendapatku..... kalo menurutmu gimana...? tulis aja dikolom komentar.... :)





Tidak ada komentar: