Minggu, 30 Mei 2010

TELAAH KRITIS KEBIJAKAN PEREKONOMIAN PEMKAB JOMBANG 2009 - 2013

1. PENDAHULUAN

Era otonomi daerah merupakan peluang yang cukup besar bagi pemerintah kota/kabupaten untuk mengembangkan perekonomian daerahnya sesuai potensi yang dimilikinya. Beberapa daerah telah mempunyai visi atau inovasi yang cukup bagus dalam mendorong berkembangnya perekonomian yang sesuai dengan kapasitas daerah masing-masing. Hanya saja, masih saja terdapat pemerintah kota/kabupaten yang belum mampu untuk menentukan arah capaian dan sektor usaha yang akan dikembangkan di wilayahnya.

Peran bupati/walikota sebagai kepala daerah menjadi sangat besar terhadap perkembangan ekonomi daerah. Untuk itu sangatlah penting kiranya jika kita mempunyai dasar yang kuat atas pengembangan perekonomian daerah yang berasal dari masing-masing kepala pemerintahan daerah (bupati/walikota). Salah satu persoalan yang dihadapi adalah apakah pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan yang tepat sehingga dapat memberi peluang pada ber\kembangnya dunia usaha dan membuka kesempatan berusaha kepada para pelaku usaha secara luas dan adil dalam usaha mempercepat laju pertumbuhan ekonomi daerah.


2. KONDISI EKONOMI DAERAH TAHUN 2008 DAN TAHUN 2009

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir kondisi perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang telah mengalami banyak peningkatan. Ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya nilai tambah barang dan jasa yang diindikasikan dengan pesatnya peningkatan nilai PDRB atas dasar harga berlaku dari Rp. 6,1 trilyun pada tahun 2004 menjadi Rp. 11,1 trilyun (angka sementara) pada tahun 2008. Selain itu struktur perekonomian wilayah Kabupaten Jombang juga semakin kokoh yang diindikasikan dengan semakin naiknya trend PDRB atas dasar harga konstan dari Rp. 4,531 trilyun pada tahun 2004 menjadi Rp. 5,673 trilyun (angka sementara) pada tahun 2008. Selanjutnya PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Jombang tahun 2009 diperkirakan akan mencapai Rp 11,435 trilyun, atau naik sebesar Rp. 256,550 milyar dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini diperoleh dari peningkatan sektor pertanian sebesar Rp. 21,265 milyar, sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp. 13,848 milyar, sektor industri pengolahan sebesar Rp. 81,687 milyar, sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 20,756 milyar, sektor bangunan sebesar Rp. 12,501 milyar, sektor angkutan dan komunikasi sebesar Rp. 218,882 milyar, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar Rp. 7,594 milyar, dan sektor jasa-jasa sebesar Rp.15,267 milyar. Sementara nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Jombang tahun 2009 diperkirakan sebesar Rp. 5,823 trilyun (tahun dasar 2000), atau naik sebesar Rp. 149,594 milyar dari tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jombang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir menunjukkan indikasi yang cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi wilayah dari 4,91 % pada tahun 2003 hingga mencapai 6,07 % pada tahun 2007 sebagaimana nampak pada tabel di bawah ini. Kondisi tersebut cukup baik karena seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Jombang secara sinergis mampu mempertahankan momentum stabilitas perekonomian di Kabupaten Jombang. Dan harapannya adalah dengan iklim perekonomian yang lebih baik lagi baik pada tingkat regional maupun nasional, tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik ini dapat semakin membaik. Sedangkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di wilayah Kabupaten Jombang secara umum masih didominasi sektor pertanian serta perdagangan, hotel dan restoran. Hal ini berarti bahwa untuk memacu tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah, Kabupaten Jombang masih bergantung pada sektor pertanian dan perdagangan,hotel dan restoran, baru kemudian disusul dengan sektor-sektor lain seperti industri pengolahan dan jasa-jasa yang secara konsisten menjadi penyumbang pertumbuhan yang cukup besar di wilayah Kabupaten Jombang.

Di sisi yang lain kondisi inflasi yang terjadi di wilayah Kabupaten Jombang juga menunjukkan kecenderungan yang semakin ramah khususnya pada tahun 2007 bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 2 digit. Bahkan pada tahun 2007 ini tingkat inflasi di Kabupaten Jombang juga menunjukkan angka di bawah tingkat inflasi Jawa Timur yang berada pada angka 11,39. Kondisi ini tentunya juga merupakan suatu pertanda yang baik bagi dunia usaha untuk mulai menanamkan investasinya di wilayah Kabupaten Jombang.

Kondisi inflasi yang semakin ramah tersebut membawa konsekuensi positif yaitu semakin meningkatnya indeks daya beli masyarakat. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir indeks daya beli masyarakat di wilayah Kabupaten Jombang menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, bahkan hampir selalu berada di atas indeks daya beli masyarakat di wilayah Propinsi Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi barang dan jasa masyarakat Kabupaten Jombang relatif baik dan hal ini tentunya juga merupakan peluang yang baik bagi para pengusaha, khususnya di bidang perdagangan retail. Kondisi ini tentunya juga tidak lepas dari terjaganya stabilitas makro ekonomi ataupun stabilitas politik di wilayah Kabupaten Jombang.

Namun demikian pada tahun 2008, berdasarkan angka sementara angka inflasi diperkirakan sedikit mengalami peningkatan yaitu berada pada angka 8,34. Hal ini sebagai imbas dari terjadinya krisis finansial global yang berlanjut hingga saat ini. Secara makro, tingkat perekonomian wilayah di Kabupaten Jombang cukup menggembirakan. Hal ini terlihat dengan semakin meningkatnya PDRB per kapita Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) yang mencapai Rp. 8.292.928,- pada tahun 2007. Sedangkan pada kurun waktu 2003-2007, jelas bahwa tingkat perekonomian wilayah menunjukkan kecenderungan yang sangat positif dan terus meningkat. Hal ini menjadi salah satu indikasi awal bahwa Kabupaten Jombang memiliki kemampuan yang cukup baik di dalam menghasilkan produk domestik barang dan jasa.

Pada tahun 2008 PDRB per kapita ADHB di Kabupaten Jombang diperkirakan mencapai Rp 9.127.048,-. Dengan kondisi seperti ini diharapkan akan dapat memacu kemampuan daya beli masyarakat sehingga akan berdampak pada meningkatnya aktivitas perekonomian wilayah di Kabupaten Jombang yang pada gilirannya diharapkan dapat mendorong perkembangan ekonomi kreatif di masyarakat. Perkembangan PDRB perkapita ADHB adalah sebagaimana nampak pada tabel di bawah ini.


Pada sisi kontribusi sektor lapangan usaha, PDRB Kabupaten Jombang pada tahun 2009 diperkirakan masih didominasi oleh sektor-sektor yang secara tradisional menjadi penyangga utama perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang seperti sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran tetap menjadi sektor-sektor yang potensial untuk dikembangkan di wilayah Kabupaten Jombang. Selain itu masih ditambah lagi dengan sektor bangunan, angkutan dan komunikasi serta jasa-jasa yang juga sangat potensial untuk dikembangkan, terkait dengan posisi strategis Kabupaten Jombang sebagai pintu gerbang wilayah Barat Gerbangkertosusila plus. Adapun perkiraan kontribusi yang diberikan oleh 4 sektor lapangan usaha yang dominan di Kabupaten Jombang adalah Sektor pertanian sebesar 9,28%, Sektor Industri Pengolahan sebesar 12,63%, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 34,09%, serta Sektor Jasa-jasa sebesar 9,57%. Secara umum peranan masing-masing sektor lapangan usaha adalah sebagaimana tersebut pada tabel di bawah ini:






Berdasarkan tabel tersebut di atas, struktur perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang secara berurutan masih didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, pertanian, industri pengolahan, dan jasa-jasa. Sektor pertanian serta perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor-sektor yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi di wilayah Kabupaten Jombang. Hal ini berarti bahwa untuk memacu tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah, Kabupaten Jombang masih bergantung pada sektor pertanian dan perdagangan, hotel dan restoran, baru kemudian disusul dengan sektor-sektor lain seperti industri pengolahan dan jasa-jasa yang secara konsisten menjadi penyumbang pertumbuhan yang cukup besar di wilayah Kabupaten Jombang.

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terlihat bahwa sektor raksasa kita yaitu sektor pertanian berjalan relatif lebih lambat. Apabila kita lihat lebih jauh lagi hal ini disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan sub sektor perkebunan dan kehutanan pada kurun waktu 2003-2007, sedangkan sub sektor tanaman bahan makanan menunjukkan progres yang lebih baik dan tumbuh lebih cepat dari 3,59 % pada tahun 2006 menjadi 3,62 % pada tahun 2007. Di sisi yang lain sektor perdagangan, hotel dan restoran semakin mempercepat langkahnya atau dengan kata lain tumbuh jauh lebih cepat. Hal ini merupakan dampak dari semaikn ramahnya laju inflasi serta semakin meningkatnya indeks daya beli masyarakat. Namun demikian tetap harus diingat bahwa dalam konteks perdagangan secara umum, komoditas pertanian juga memainkan peran yang tidak kecil.

Di dalam konstelasi Propinsi Jawa Timur sektor-sektor yang secara tradisional menjadi penyangga utama perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang seperti sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran tetap menjadi sektor-sektor yang potensial untuk dikembangkan di wilayah Kabupaten Jombang. Selain itu masih ditambah lagi dengan sektor bangunan, angkutan dan komunikasi serta jasa-jasa yang juga sangat potensial untuk dikembangkan, terkait dengan posisi strategis Kabupaten Jombang sebagai pintu gerbang wilayah Barat Gerbangkertosusila plus.

Pada kurun waktu 2003-2007, struktur perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang masih didominasi oleh sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran serta jasa-jasa. Namun demikian dalam kurun waktu 2 tahun terakhir peranan keempat sektor tersebut telah mengalami pergeseran. Pada tahun 2007 nampak bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran mulai terlihat seimbang dengan sektor pertanian. Selain itu juga terlihat bahwa sektor industri pengolahan juga terus bergerak naik. Kondisi ini tidak terlepas dari mulai menurunnya dampak intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian serta semakin maraknya konversi lahan pertanian menjadi non pertanian. Tetapi ke depan pemkab Jombang masih menaruh harapan besar pada agribisnis dan agroindustri sebagai pengembangan sektor pertanian. Untuk itu diharapkan agar masyarakat mulai mengembangkan "ekonomi kreatif" yang berbahan baku produk pertanian. Selain itu Pemkab Jombang juga berharap agar di Kabupaten Jombang juga dapat dikembangkan pembuatan biofuel dan lain-lain.


3. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI DAERAH

Terkait dengan proyeksi ekonomi makro di wilayah Kabupaten Jombang, maka kebijakan ekonomi daerah Kabupaten Jombang diarahkan untuk:

1. Peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perluasan produk agroindustri, penguatan kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB, pengembangan ekowisata, agrowisata, wisata budaya, serta peningkatan pengetahuan dan skill pelaku ekonomi serta penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.

2. Pada dimensi pembangunan berbasis kewilayahan diarahkan percepatan pembangunan perdesaan dalam rangka meningkatkan keterkaitan ekonomi desa dengan kota melalui implementasi model-model pembangunan perdesaan yang relevan dengan karakteristik wilayah yang ada.

3. Mendorong dan memfasilitasi kemitraan usaha antara pengusaha besar dan menengah dengan pelaku usaha mikro dan kecil.

4. Mendorong terwujudnya iklim investasi yang sehat melalui peningkatan efektivitas dan efisiensi pelayanan.

5. Meningkatkan kualitas dan memantapkan kondisi infrastruktur wilayah untuk menunjang aktivitas perekonomian wilayah.

6. Percepatan penyediaan infrastruktur dasar

7. Peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi

8. Pemeratan pembangunan dalam rangka peningkatan daya saing daerah.

Dalam kaitan ini tantangan secara eksternal di tingkat regional maupun nasional adalah tuntutan pengelolaan ekonomi daerah yang tepat dalam kerangka pembangunan nasional dan regional, penataan ekonomi yang berdaya saing dan perbaikan iklim investasi. Sedangkan tantangan secara global terkait dengan standarisasi produk, persaingan produk yang sama dari daerah lain, serta tuntutan konsumen yang semakin berkembang.


4. TUJUAN DAN SASARAN KEBIJAKAN PEREKONOMIAN

Sesuai dengan Visi Kabupaten Jombang yaitu “Terwujudnya Masyarakat Jombang yang sejahtera, agamis dan berdaya saing berbasis agribisnis” serta misi “Membangun struktur perekonomian yang kokoh dengan basis keunggulan kompetitif di bidang agribisnis”, maka Tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam membangun struktur perekonomian yang kokoh dengan basis keunggulan kompetitif di bidang agribisnis adalah:

A. Meningkatkan perekonomian yang berbasis agribisnis, dengan sasaran-sasaran:

1) Mantapnya ketahan pangan, dengan indikator:
• Terwujudnya stok pangan pada 500 poktan pada 2013;
• Pemenuhan kecukupan protein hewani sebesar 45,73 m/hari/orang;
• Tercapainya nilai NTP sebesar 111 pada tahun 2013 (dengan tahun 2007 sebagai tahun dasar).

2) Terwujudnya jejaring agribisnis yang kuat dan kokoh, dengan indikator:
• Tumbuh kembangnya industri olahan di sentra-sentra produksi pertanian;
• Meningkatnya ekspansi pasar produk pertanian tahun 2013;
• Terlembaganya sistem kemitraan agribisnis tahun 2013

3) Meningkatnya sistem infrastruktur penunjang agribisnis, dengan indikator:
• Meningkatnya aksesibilitas dan distribusi pada sentra-sentra produksi;
• Meningkatnya layanan jaringan irigasi teknis.

B. Menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pengembangan investasi di bidang agribisnis, dengan sasaran-sasaran :

1) Meningkatnya investasi usaha mikro, kecil, dan menengah, dengan indikator:
• Meningkatnya jumlah unit usaha sebesar 3.140 dan nilai investasi sebesar Rp. 5.391.125.485 pada 2013.

2) Terwujudnya sistem investasi daerah yang efektif dan efisien, dengan indikator:
• Meningkatnya jumlah PMA dan PMDN sebesar 30% pada 2013.

C. Mewujudkan kawasan strategis cepat tumbuh berbasis agribisnis, dengan sasaran:

1) terwujudnya klaster-klaster agribisnis di Kabupaten Jombang, dengan indikator:
• Terwujudnya kawasan strategis dan cepat tumbuh pada setiap SSWP pada 2013;
• Terwujudnya keterkaitan bisnis yang saling menguntungkan antar pelaku usaha di bidang agribisnis dalam satu kawasan pada tahun 2013.


5. TELA’AH KRITIS KEBIJAKAN EKONOMI PEMKAB JOMBANG

1. Kebijakan perekonomian Kabupaten Jombang yang lebih fokus pada sektor pertanian memang tidak bisa dikatakan tidak tepat sasaran mengingat sebagian besar luas tanah Kabupaten Jombang atau 42% digunakan sebagai sawah. Namun demikian Pemkab Jombang juga harus mempertimbangkan bahwa kontributor pertumbuhan tertinggi pada 2 tahun terakhir peranan sektor tersebut telah mengalami pergeseran. Pada tahun 2007 nampak bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran mulai terlihat seimbang dengan sektor pertanian. Selain itu juga terlihat bahwa sektor industri pengolahan juga terus bergerak naik. Kondisi ini tidak terlepas dari mulai menurunnya dampak intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian serta semakin maraknya konversi lahan pertanian menjadi non pertanian. Jadi alangkah baiknya jika Pemkab Jombang tidak hanya fokus pada pertanian saja tetapi mulai membuat kebijakan pada sektor-sektor perdagangan, hotel dan restoran ini agar bisa lebih memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jombang. Selain itu untuk meningkatkan efektifitas program pengembangan ekonomi perlu adanya evaluasi untuk melihat kembali korelasi antara kegiatan – sasaran – output – tujuan di Kabupaten Jombang. Evaluasi lebih ditekankan pada output dan substansi masing-masing kegiatan sehingga lebih mengarah ke tujuan rencana pembangunan ekonomi yang diinginkan.

2. Mengingat Kabupaten Jombang dikenal sebagai jalur transportasi strategis yang menghubungkan wilayah tengah dan selatan Jawa Timur dan oleh karenanya banyak berdiri rumah makan dan restoran disepanjang jalur transportasi ini. Dan ini adalah sebuah peluang besar untuk dikembangkannya obyek pariwisata di Kabupaten Jombang. Apalagi jika dilihat fenomena akhir-akrir ini, ratusan orang bahkan pernah sampai ribuan orang sengaja datang ke Jombang untuk berziarah ke makam Gus Dur, Harus difikirkan bagaimana agar orang-orang yang kebetulan melewati jalur tidak hanya berhenti untuk sekedar istirahat dan makan tapi mereka tertarik untuk singgah beberapa saat untuk berwisata di Kabupaten Jombang ini. Begitu pula untuk para peziarah ini, jangan sampai mereka jauh-jauh ke jombang hanya untuk berziarah saja, mereka harus juga mengunjungi tempat-tempat lain dijombang serta dengan senang hati membelanjakan uangnya di Jombang, dengan begitu perekonomian masyarakat Jombang akan menggeliat dan tumbuh. Ayo optimalkan lagi peran Disporabudpar Kabupaten Jombang terutama perannya di sektor pariwisata yang selama ini terkesan mati suri.

3. Jombang juga terkenal sebagai kota santri karena banyaknya pesantren. Pesantren di Jombang juga telah melahirkan ulama-ulama basar seperti yang telah kita kenal bersama antara lain KH. Hasyim Asyari, KH. Abdurrahman wahid, KH. Nur Kholis Wahid, dll. Ini adalah potensi besar untuk menarik para santri dari luar daerah untuk menuntut ilmu di pesantren-pesantren di Jombang. Pemda harus ikut mendorong berkembangnya pesantren-pesantren ini misalnya dengan cara mempromosikannya pada pameran-pameran pendidikan. Dengan banyaknya para santri dan pelajar untuk menuntut ilmu di Kabupaten Jombang maka akan mendorong munculnya usaha-usaha kecil diwilayah sekitar pesantren/ sekolah yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.


DAFTAR PUSTAKA

PUPUK Surabaya, 2006, Pengembangan Ekonomi Regional Perspektif Kebijakan Pemkab Jombang, Penerbit : PUPUK Surabaya

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RJPMD) Kabupaten Jombang Tahun 2009 – 2013

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Jombang Tahun 2010

Jombang Dalam Angka Kabupaten Jombang tahun 2009

4 komentar:

PutraGoes mengatakan...

jujur..... aku salut atas perhatianmu pada perekonomian daerah kita (Kabupaten Jombang). ma’af aku nimbrung lagi di postingan yang kamu buat karena terus terang kamu pintar menggelitik pikiranku..... kalau kamu tidak berkenan atas komentarku hapus saja ya.....

melihat data makro ekonomi dalam bentuk tabel kontribusi PDRB per-sektor, sebenarnya aku memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda dengan pemikiranmu, hanya saja aku punya analisa dengan perspektif yang berbeda. karena perspektif-nya berbeda, berakibat rekomendasinya berbeda pula.

kalau kamu menganalisa data secara sektor per-sektor dan menemukan kenyataan bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran mulai terlihat seimbang sehingga kamu memberikan rekomendasi agar Pemkab Jombang mengevaluasi kebijakan perekonomian daerah yang masih fokus pada sektor pertanian dengan mempertimbangkan sektor perdagangan, hotel dan restoran yang “kamu yakini lebih efektif” atau kalau boleh aku ganti istilahnya “kamu yakini lebih realistis” dalam mencapai tujuan rencana pembangunan daerah yang diinginkan.

dari tabel kontribusi PDRB per-sektor yang kamu sajikan, aku cenderung menganalisanya dari perspektif kelompok sektor. seperti yang kamu ketahui, sembilan sektor ekonomi yang kamu sajikan di postingan-mu dapat dibagi menjadi tiga kelompok sektor yaitu: sektor primer (sektor pertanian; sektor pertambangan dan penggalian), sektor sekunder (sektor industri pengolahan; sektor listrik, gas dan air bersih; sektor bangunan) dan sektor tersier (sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor pengangkutan dan komunikasi; sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan; sektor jasa-jasa)

PutraGoes mengatakan...

nah..... kalau dipisahkan berdasarkan kelompok sektor, rasio kontribusi-nya baik data tahun 2007 maupun prediksi tahun 2008 justru kelompok sektor tersier memberi kontribusi tertinggi (50% lebih), kemudian diikuti kelompok sektor primer (30% lebih) dan sisanya adalah kontribusi kelompok sektor sekunder (14% lebih).

rasio kelompok sektor di atas dapat menghasilkan banyak hipotesa. aku mencoba membuat hipotesa dari sisi investasi daerah. jika dikaitkan dengan investasi daerah, kontribusi kelompok sektor PDRB menggambarkan bahwa Pemerintahan Daerah (DPRD dan Pemda) Kabupaten Jombang tidak berhasil/gagal mendorong tumbuhnya investasi daerah yang berbasis potensi/kemampuan/kekuatan daerah yang dimiliki Kabupaten Jombang.

lho..... aku khoq punya hipotesa seperti itu.....??? iya..... mari kita kaji bersama.

PutraGoes mengatakan...

secara teori, kondisi normal sebuah ekonomi pada awalnya, sumbangan kontribusi terbesar berasal dari kelompok sektor primer (sektor pertanian; sektor pertambangan dan penggalian) dan pemilik kapital berinvestasi besar-besaran pada kelompok sektor primer.

pada fase berikutnya terjadi perkembangan teknologi yang mendorong industrialisasi, dan ini memicu transformasi perilaku pelaku ekonomi dengan mendistribusikan barang yang dihasilkan kelompok sektor primer ke dalam barang olahan yang dijalankan pelaku ekonomi kelompok sektor sekunder dan pemilik kapital mulai mengalihkan investasi ke kelompok sektor sekunder.

pada fase berikutnya, terbentuk masyarakat modern yang memiliki tingkat penghasilan yang tinggi dan terjadi perubahan perilaku yang tidak hanya berorientasi pada keinginan memiliki sumber daya yang cukup saja tetapi juga sudah berpikir pada orientasi pada hiburan,seni dan hal-hal lain yang bersifat peningkatan status sosial. hal ini menyebabkan banyak pemilik kapital membagi investasinya ke kelompok sektor tersier.

oke..... sekarang kita bandingkan teori ekonomi tersebut dengan kondisi daerah kita (Kabupaten Jombang). data makro ekonomi yang pada awalnya didominasi kelompok sektor primer kemudian beberapa tahun terakhir bergeser tidak ke kelompok sektor sekunder dulu tapi langsung ke kelompok sektor tersier.

untuk mengetahui apa penyebab gejala fenomena tersebut, hipotesa awal yang kumiliki adalah telah terjadi distribusi hasil pertanian dan bahan/material galian dari sektor pertambangan dan galian yang menjadi produk kelompok sektor primer daerah kita (Kabupaten Jombang) ke daerah/kabupaten lain sehingga kelompok sektor tersier berkembang secara pesat. ini ditunjukkan dengan tingginya kontribusi dari perdagangan dan ramainya kunjungan hotel dan restoran yang sebagian besar dikunjungi sales/jasa angkut atau biro ekspedisi yang datang dari daerah/kabupaten lain untuk membawa hasil bumi dan/atau hasil tambang/galian dari daerah kita (Kabupaten Jombang) keluar Kabupaten Jombang (sumber data kunjungan hotel dan restoran berdasarkan data potensi pajak yang dihitung oleh teman-teman Bidang Pendapatan di kantorku/DPPKAD).

nah..... pertanyaannya, kenapa daerah kita sendiri (Kabupaten Jombang) tidak bisa memanfaatkan produk kelompok sektor primer tersebut.....??? malah daerah/kabupaten lain lebih memiliki minat memanfaatkannya.

sekali lagi hipotesa-ku adalah hal ini disebabkan oleh minimnya industri yang mengolah hasil bumi dan/atau hasil tambang/galian yang ada, atau dengan kata lain Pemerintahan Daerah (DPRD dan Pemda) Kabupaten Jombang tidak berhasil/gagal mendorong tumbuhnya investasi daerah yang berbasis potensi/kemampuan/kekuatan daerah yang dimiliki Kabupaten Jombang.

hipotesa-ku di atas memang masih perlu dibuktikan dengan menganalisa data empiriknya. seandainya hipotesaku terbukti bernilai benar, maka rekomendasiku kepada Pemerintahan Daerah (DPRD dan Pemkab) Kabupaten Jombang adalah membuat kebijakan-kebijakan yang mampu menumbuhkan atau mendorong investasi daerah terutama pada investasi yang bergerak pada bidang pengolahan hasil bumi dan/atau bahan tambang/galian baik industri masal oleh korporat/aliansi/konsorsium maupun industri rumahan yang bergerak dalam sektor ekonomi informal. apabila sektor industri pengolahan mampu ditumbuhkan dampak berantai yang pertama kena adalah meningkatnya konsumsi listrik, gas dan air bersih akibat aktivitas produksi pengolahan itu sendiri. dampak berantai berikutnya adalah sektor bangunan yang memang dibutuhkan dalam konstruksi bangunan-bangunan baru tempat pengolahan.

ANA ARISANTI mengatakan...

Makasih komennya yo mas. Menurut aku investor enggan menanamkan modalnya di kab jombang karena iklim investasi di Jombang memang belum sepenuhnya mendukung, lebih lengkapnya pean baca tulisanku: "PENANAMAN MODAL ASING DI KAB JOMBANG"