Minggu, 30 Mei 2010

TELAAH KRITIS KEBIJAKAN PEREKONOMIAN PEMKAB JOMBANG 2009 - 2013

1. PENDAHULUAN

Era otonomi daerah merupakan peluang yang cukup besar bagi pemerintah kota/kabupaten untuk mengembangkan perekonomian daerahnya sesuai potensi yang dimilikinya. Beberapa daerah telah mempunyai visi atau inovasi yang cukup bagus dalam mendorong berkembangnya perekonomian yang sesuai dengan kapasitas daerah masing-masing. Hanya saja, masih saja terdapat pemerintah kota/kabupaten yang belum mampu untuk menentukan arah capaian dan sektor usaha yang akan dikembangkan di wilayahnya.

Peran bupati/walikota sebagai kepala daerah menjadi sangat besar terhadap perkembangan ekonomi daerah. Untuk itu sangatlah penting kiranya jika kita mempunyai dasar yang kuat atas pengembangan perekonomian daerah yang berasal dari masing-masing kepala pemerintahan daerah (bupati/walikota). Salah satu persoalan yang dihadapi adalah apakah pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan yang tepat sehingga dapat memberi peluang pada ber\kembangnya dunia usaha dan membuka kesempatan berusaha kepada para pelaku usaha secara luas dan adil dalam usaha mempercepat laju pertumbuhan ekonomi daerah.


2. KONDISI EKONOMI DAERAH TAHUN 2008 DAN TAHUN 2009

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir kondisi perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang telah mengalami banyak peningkatan. Ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya nilai tambah barang dan jasa yang diindikasikan dengan pesatnya peningkatan nilai PDRB atas dasar harga berlaku dari Rp. 6,1 trilyun pada tahun 2004 menjadi Rp. 11,1 trilyun (angka sementara) pada tahun 2008. Selain itu struktur perekonomian wilayah Kabupaten Jombang juga semakin kokoh yang diindikasikan dengan semakin naiknya trend PDRB atas dasar harga konstan dari Rp. 4,531 trilyun pada tahun 2004 menjadi Rp. 5,673 trilyun (angka sementara) pada tahun 2008. Selanjutnya PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Jombang tahun 2009 diperkirakan akan mencapai Rp 11,435 trilyun, atau naik sebesar Rp. 256,550 milyar dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini diperoleh dari peningkatan sektor pertanian sebesar Rp. 21,265 milyar, sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp. 13,848 milyar, sektor industri pengolahan sebesar Rp. 81,687 milyar, sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 20,756 milyar, sektor bangunan sebesar Rp. 12,501 milyar, sektor angkutan dan komunikasi sebesar Rp. 218,882 milyar, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar Rp. 7,594 milyar, dan sektor jasa-jasa sebesar Rp.15,267 milyar. Sementara nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Jombang tahun 2009 diperkirakan sebesar Rp. 5,823 trilyun (tahun dasar 2000), atau naik sebesar Rp. 149,594 milyar dari tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jombang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir menunjukkan indikasi yang cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi wilayah dari 4,91 % pada tahun 2003 hingga mencapai 6,07 % pada tahun 2007 sebagaimana nampak pada tabel di bawah ini. Kondisi tersebut cukup baik karena seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Jombang secara sinergis mampu mempertahankan momentum stabilitas perekonomian di Kabupaten Jombang. Dan harapannya adalah dengan iklim perekonomian yang lebih baik lagi baik pada tingkat regional maupun nasional, tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik ini dapat semakin membaik. Sedangkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di wilayah Kabupaten Jombang secara umum masih didominasi sektor pertanian serta perdagangan, hotel dan restoran. Hal ini berarti bahwa untuk memacu tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah, Kabupaten Jombang masih bergantung pada sektor pertanian dan perdagangan,hotel dan restoran, baru kemudian disusul dengan sektor-sektor lain seperti industri pengolahan dan jasa-jasa yang secara konsisten menjadi penyumbang pertumbuhan yang cukup besar di wilayah Kabupaten Jombang.

Di sisi yang lain kondisi inflasi yang terjadi di wilayah Kabupaten Jombang juga menunjukkan kecenderungan yang semakin ramah khususnya pada tahun 2007 bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 2 digit. Bahkan pada tahun 2007 ini tingkat inflasi di Kabupaten Jombang juga menunjukkan angka di bawah tingkat inflasi Jawa Timur yang berada pada angka 11,39. Kondisi ini tentunya juga merupakan suatu pertanda yang baik bagi dunia usaha untuk mulai menanamkan investasinya di wilayah Kabupaten Jombang.

Kondisi inflasi yang semakin ramah tersebut membawa konsekuensi positif yaitu semakin meningkatnya indeks daya beli masyarakat. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir indeks daya beli masyarakat di wilayah Kabupaten Jombang menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat, bahkan hampir selalu berada di atas indeks daya beli masyarakat di wilayah Propinsi Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi barang dan jasa masyarakat Kabupaten Jombang relatif baik dan hal ini tentunya juga merupakan peluang yang baik bagi para pengusaha, khususnya di bidang perdagangan retail. Kondisi ini tentunya juga tidak lepas dari terjaganya stabilitas makro ekonomi ataupun stabilitas politik di wilayah Kabupaten Jombang.

Namun demikian pada tahun 2008, berdasarkan angka sementara angka inflasi diperkirakan sedikit mengalami peningkatan yaitu berada pada angka 8,34. Hal ini sebagai imbas dari terjadinya krisis finansial global yang berlanjut hingga saat ini. Secara makro, tingkat perekonomian wilayah di Kabupaten Jombang cukup menggembirakan. Hal ini terlihat dengan semakin meningkatnya PDRB per kapita Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) yang mencapai Rp. 8.292.928,- pada tahun 2007. Sedangkan pada kurun waktu 2003-2007, jelas bahwa tingkat perekonomian wilayah menunjukkan kecenderungan yang sangat positif dan terus meningkat. Hal ini menjadi salah satu indikasi awal bahwa Kabupaten Jombang memiliki kemampuan yang cukup baik di dalam menghasilkan produk domestik barang dan jasa.

Pada tahun 2008 PDRB per kapita ADHB di Kabupaten Jombang diperkirakan mencapai Rp 9.127.048,-. Dengan kondisi seperti ini diharapkan akan dapat memacu kemampuan daya beli masyarakat sehingga akan berdampak pada meningkatnya aktivitas perekonomian wilayah di Kabupaten Jombang yang pada gilirannya diharapkan dapat mendorong perkembangan ekonomi kreatif di masyarakat. Perkembangan PDRB perkapita ADHB adalah sebagaimana nampak pada tabel di bawah ini.


Pada sisi kontribusi sektor lapangan usaha, PDRB Kabupaten Jombang pada tahun 2009 diperkirakan masih didominasi oleh sektor-sektor yang secara tradisional menjadi penyangga utama perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang seperti sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran tetap menjadi sektor-sektor yang potensial untuk dikembangkan di wilayah Kabupaten Jombang. Selain itu masih ditambah lagi dengan sektor bangunan, angkutan dan komunikasi serta jasa-jasa yang juga sangat potensial untuk dikembangkan, terkait dengan posisi strategis Kabupaten Jombang sebagai pintu gerbang wilayah Barat Gerbangkertosusila plus. Adapun perkiraan kontribusi yang diberikan oleh 4 sektor lapangan usaha yang dominan di Kabupaten Jombang adalah Sektor pertanian sebesar 9,28%, Sektor Industri Pengolahan sebesar 12,63%, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 34,09%, serta Sektor Jasa-jasa sebesar 9,57%. Secara umum peranan masing-masing sektor lapangan usaha adalah sebagaimana tersebut pada tabel di bawah ini:






Berdasarkan tabel tersebut di atas, struktur perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang secara berurutan masih didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, pertanian, industri pengolahan, dan jasa-jasa. Sektor pertanian serta perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor-sektor yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi di wilayah Kabupaten Jombang. Hal ini berarti bahwa untuk memacu tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah, Kabupaten Jombang masih bergantung pada sektor pertanian dan perdagangan, hotel dan restoran, baru kemudian disusul dengan sektor-sektor lain seperti industri pengolahan dan jasa-jasa yang secara konsisten menjadi penyumbang pertumbuhan yang cukup besar di wilayah Kabupaten Jombang.

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terlihat bahwa sektor raksasa kita yaitu sektor pertanian berjalan relatif lebih lambat. Apabila kita lihat lebih jauh lagi hal ini disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan sub sektor perkebunan dan kehutanan pada kurun waktu 2003-2007, sedangkan sub sektor tanaman bahan makanan menunjukkan progres yang lebih baik dan tumbuh lebih cepat dari 3,59 % pada tahun 2006 menjadi 3,62 % pada tahun 2007. Di sisi yang lain sektor perdagangan, hotel dan restoran semakin mempercepat langkahnya atau dengan kata lain tumbuh jauh lebih cepat. Hal ini merupakan dampak dari semaikn ramahnya laju inflasi serta semakin meningkatnya indeks daya beli masyarakat. Namun demikian tetap harus diingat bahwa dalam konteks perdagangan secara umum, komoditas pertanian juga memainkan peran yang tidak kecil.

Di dalam konstelasi Propinsi Jawa Timur sektor-sektor yang secara tradisional menjadi penyangga utama perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang seperti sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran tetap menjadi sektor-sektor yang potensial untuk dikembangkan di wilayah Kabupaten Jombang. Selain itu masih ditambah lagi dengan sektor bangunan, angkutan dan komunikasi serta jasa-jasa yang juga sangat potensial untuk dikembangkan, terkait dengan posisi strategis Kabupaten Jombang sebagai pintu gerbang wilayah Barat Gerbangkertosusila plus.

Pada kurun waktu 2003-2007, struktur perekonomian di wilayah Kabupaten Jombang masih didominasi oleh sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran serta jasa-jasa. Namun demikian dalam kurun waktu 2 tahun terakhir peranan keempat sektor tersebut telah mengalami pergeseran. Pada tahun 2007 nampak bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran mulai terlihat seimbang dengan sektor pertanian. Selain itu juga terlihat bahwa sektor industri pengolahan juga terus bergerak naik. Kondisi ini tidak terlepas dari mulai menurunnya dampak intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian serta semakin maraknya konversi lahan pertanian menjadi non pertanian. Tetapi ke depan pemkab Jombang masih menaruh harapan besar pada agribisnis dan agroindustri sebagai pengembangan sektor pertanian. Untuk itu diharapkan agar masyarakat mulai mengembangkan "ekonomi kreatif" yang berbahan baku produk pertanian. Selain itu Pemkab Jombang juga berharap agar di Kabupaten Jombang juga dapat dikembangkan pembuatan biofuel dan lain-lain.


3. ARAH KEBIJAKAN EKONOMI DAERAH

Terkait dengan proyeksi ekonomi makro di wilayah Kabupaten Jombang, maka kebijakan ekonomi daerah Kabupaten Jombang diarahkan untuk:

1. Peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perluasan produk agroindustri, penguatan kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB, pengembangan ekowisata, agrowisata, wisata budaya, serta peningkatan pengetahuan dan skill pelaku ekonomi serta penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.

2. Pada dimensi pembangunan berbasis kewilayahan diarahkan percepatan pembangunan perdesaan dalam rangka meningkatkan keterkaitan ekonomi desa dengan kota melalui implementasi model-model pembangunan perdesaan yang relevan dengan karakteristik wilayah yang ada.

3. Mendorong dan memfasilitasi kemitraan usaha antara pengusaha besar dan menengah dengan pelaku usaha mikro dan kecil.

4. Mendorong terwujudnya iklim investasi yang sehat melalui peningkatan efektivitas dan efisiensi pelayanan.

5. Meningkatkan kualitas dan memantapkan kondisi infrastruktur wilayah untuk menunjang aktivitas perekonomian wilayah.

6. Percepatan penyediaan infrastruktur dasar

7. Peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi

8. Pemeratan pembangunan dalam rangka peningkatan daya saing daerah.

Dalam kaitan ini tantangan secara eksternal di tingkat regional maupun nasional adalah tuntutan pengelolaan ekonomi daerah yang tepat dalam kerangka pembangunan nasional dan regional, penataan ekonomi yang berdaya saing dan perbaikan iklim investasi. Sedangkan tantangan secara global terkait dengan standarisasi produk, persaingan produk yang sama dari daerah lain, serta tuntutan konsumen yang semakin berkembang.


4. TUJUAN DAN SASARAN KEBIJAKAN PEREKONOMIAN

Sesuai dengan Visi Kabupaten Jombang yaitu “Terwujudnya Masyarakat Jombang yang sejahtera, agamis dan berdaya saing berbasis agribisnis” serta misi “Membangun struktur perekonomian yang kokoh dengan basis keunggulan kompetitif di bidang agribisnis”, maka Tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam membangun struktur perekonomian yang kokoh dengan basis keunggulan kompetitif di bidang agribisnis adalah:

A. Meningkatkan perekonomian yang berbasis agribisnis, dengan sasaran-sasaran:

1) Mantapnya ketahan pangan, dengan indikator:
• Terwujudnya stok pangan pada 500 poktan pada 2013;
• Pemenuhan kecukupan protein hewani sebesar 45,73 m/hari/orang;
• Tercapainya nilai NTP sebesar 111 pada tahun 2013 (dengan tahun 2007 sebagai tahun dasar).

2) Terwujudnya jejaring agribisnis yang kuat dan kokoh, dengan indikator:
• Tumbuh kembangnya industri olahan di sentra-sentra produksi pertanian;
• Meningkatnya ekspansi pasar produk pertanian tahun 2013;
• Terlembaganya sistem kemitraan agribisnis tahun 2013

3) Meningkatnya sistem infrastruktur penunjang agribisnis, dengan indikator:
• Meningkatnya aksesibilitas dan distribusi pada sentra-sentra produksi;
• Meningkatnya layanan jaringan irigasi teknis.

B. Menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pengembangan investasi di bidang agribisnis, dengan sasaran-sasaran :

1) Meningkatnya investasi usaha mikro, kecil, dan menengah, dengan indikator:
• Meningkatnya jumlah unit usaha sebesar 3.140 dan nilai investasi sebesar Rp. 5.391.125.485 pada 2013.

2) Terwujudnya sistem investasi daerah yang efektif dan efisien, dengan indikator:
• Meningkatnya jumlah PMA dan PMDN sebesar 30% pada 2013.

C. Mewujudkan kawasan strategis cepat tumbuh berbasis agribisnis, dengan sasaran:

1) terwujudnya klaster-klaster agribisnis di Kabupaten Jombang, dengan indikator:
• Terwujudnya kawasan strategis dan cepat tumbuh pada setiap SSWP pada 2013;
• Terwujudnya keterkaitan bisnis yang saling menguntungkan antar pelaku usaha di bidang agribisnis dalam satu kawasan pada tahun 2013.


5. TELA’AH KRITIS KEBIJAKAN EKONOMI PEMKAB JOMBANG

1. Kebijakan perekonomian Kabupaten Jombang yang lebih fokus pada sektor pertanian memang tidak bisa dikatakan tidak tepat sasaran mengingat sebagian besar luas tanah Kabupaten Jombang atau 42% digunakan sebagai sawah. Namun demikian Pemkab Jombang juga harus mempertimbangkan bahwa kontributor pertumbuhan tertinggi pada 2 tahun terakhir peranan sektor tersebut telah mengalami pergeseran. Pada tahun 2007 nampak bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran mulai terlihat seimbang dengan sektor pertanian. Selain itu juga terlihat bahwa sektor industri pengolahan juga terus bergerak naik. Kondisi ini tidak terlepas dari mulai menurunnya dampak intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian serta semakin maraknya konversi lahan pertanian menjadi non pertanian. Jadi alangkah baiknya jika Pemkab Jombang tidak hanya fokus pada pertanian saja tetapi mulai membuat kebijakan pada sektor-sektor perdagangan, hotel dan restoran ini agar bisa lebih memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jombang. Selain itu untuk meningkatkan efektifitas program pengembangan ekonomi perlu adanya evaluasi untuk melihat kembali korelasi antara kegiatan – sasaran – output – tujuan di Kabupaten Jombang. Evaluasi lebih ditekankan pada output dan substansi masing-masing kegiatan sehingga lebih mengarah ke tujuan rencana pembangunan ekonomi yang diinginkan.

2. Mengingat Kabupaten Jombang dikenal sebagai jalur transportasi strategis yang menghubungkan wilayah tengah dan selatan Jawa Timur dan oleh karenanya banyak berdiri rumah makan dan restoran disepanjang jalur transportasi ini. Dan ini adalah sebuah peluang besar untuk dikembangkannya obyek pariwisata di Kabupaten Jombang. Apalagi jika dilihat fenomena akhir-akrir ini, ratusan orang bahkan pernah sampai ribuan orang sengaja datang ke Jombang untuk berziarah ke makam Gus Dur, Harus difikirkan bagaimana agar orang-orang yang kebetulan melewati jalur tidak hanya berhenti untuk sekedar istirahat dan makan tapi mereka tertarik untuk singgah beberapa saat untuk berwisata di Kabupaten Jombang ini. Begitu pula untuk para peziarah ini, jangan sampai mereka jauh-jauh ke jombang hanya untuk berziarah saja, mereka harus juga mengunjungi tempat-tempat lain dijombang serta dengan senang hati membelanjakan uangnya di Jombang, dengan begitu perekonomian masyarakat Jombang akan menggeliat dan tumbuh. Ayo optimalkan lagi peran Disporabudpar Kabupaten Jombang terutama perannya di sektor pariwisata yang selama ini terkesan mati suri.

3. Jombang juga terkenal sebagai kota santri karena banyaknya pesantren. Pesantren di Jombang juga telah melahirkan ulama-ulama basar seperti yang telah kita kenal bersama antara lain KH. Hasyim Asyari, KH. Abdurrahman wahid, KH. Nur Kholis Wahid, dll. Ini adalah potensi besar untuk menarik para santri dari luar daerah untuk menuntut ilmu di pesantren-pesantren di Jombang. Pemda harus ikut mendorong berkembangnya pesantren-pesantren ini misalnya dengan cara mempromosikannya pada pameran-pameran pendidikan. Dengan banyaknya para santri dan pelajar untuk menuntut ilmu di Kabupaten Jombang maka akan mendorong munculnya usaha-usaha kecil diwilayah sekitar pesantren/ sekolah yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.


DAFTAR PUSTAKA

PUPUK Surabaya, 2006, Pengembangan Ekonomi Regional Perspektif Kebijakan Pemkab Jombang, Penerbit : PUPUK Surabaya

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RJPMD) Kabupaten Jombang Tahun 2009 – 2013

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Jombang Tahun 2010

Jombang Dalam Angka Kabupaten Jombang tahun 2009

Kamis, 27 Mei 2010

Cara Mengambil Ukuran Pola Baju Wanita Dewasa (2)
















































Keterangan gambar :
1) Lingkar leher : diukur sekeliling leher tidak terlalu ketat dan tidak terlalu longgar

2) Lebar muka: diukur 6 atau 7 cm dari lekuk leher ke bawah, kemudian diukur datar dari batas lingkar kerung lengan kiri sampai batas lingkar kerung lengan kanan

3) Lingkar badan: diukur sekeliling badan terbesar dengan posisi cm tidak terlalu kencang dan ditambah 4 cm.

4) Tinggi dada : diukur dari lekuk leher tengah muka sampai batas diantara dua titik payudara kiri dan kanan.

5) Lingkar pinggang: diukur pas sekeliling pinggang

6) Lingkar panggul ; diukur melingkar pada pinggul yang paling tebal secara horizontal dengan tidak terlalu ketat

7) Tinggi panggul : diukur dari pinggang sampai batas panggul terbesar pada bagian belakang

8) Lebar punggung : diukur 9 cm ke bawah dari tulang leher belakang kemudian diukur mendatar dari batas lingkar kerung lengan kiri ke lingkar kerung lengan kanan

9) Panjang punggung : diukur dari tulang belakang lurus sampai batas pinggang

10) Panjang rok : diukur dari pinggang sampai panjang rok yang diinginkan

11) Panjang bahu : diukur dari batas lingkar leher sampai batas bahu terendah

12) Panjang lengan : diukur dari bahu terendah sampai panjang yang diinginkan

13) Tinggi puncak lengan : diukur dari bahu terendah sampai batas lengan terbesar/otot lengan atau sama dengan panjang bahu


LANJUTKAN KE : Menggambar pola dasar pakaian wanita dewasa sistem dressmaking (3)


Artikel terkait :

  1. Alat yang diperlukan dalam menggambar pola busana (1) 
  2. Cara mengambil ukuran pola pria dewasa
  3. Cara mengambil ukuran pola anak
  4. Menggambar pola dasar pakaian wanita dewasa sistem dressmaking (3) 
  5. Pola Dasar Lengan (4)
  6. Pola Dasar Rok 
  7. Pola dasar celana wanita

Pola dasar baju wanita sistem dressmaking (3)

Ukuran yang dibutuhkan untuk pola sistem Dressmaking


a) Lingkar leher : 38 cm
b) Lebar muka : 33 cm
c) Lingkar badan : 88 cm
d) Tinggi dada : 15 cm
e) Lingkar pinggang : 66 cm
f) Lingkar panggul : 96 cm
g) Tinggi panggul : 16 cm
h) Lebar punggung : 34 cm
i) Panjang punggung : 37 cm
j) Panjang rok : 50 cm
k) Panjang bahu : 12 cm
l) Panjang lengan : 24 cm
m) Tinggi puncak lengan : 12 cm


** ukuran diatas adalah ukuran untuk belajar menggambar pola dasar pakaian wanita dewasa. Jadi untuk membuat pola baju anda sendiri tinggal mengganti angka-angkanya sesuai ukuran anda

Keterangan Pola

Menggambar pola sistem Dressmaking dimulai dari pola belakang, tetapi sebelumnya ditentukan pedoman umumnya yaitu ukuran ½ lingkar badan yang dimulai dengan sebuah titik.

A - B    = ½ ukuran lingkar badan.
A - C    = ¼ lingkar badan ditambah 1 cm.
B - B1  = 1,5 cm.
B1 - D  = ukuran panjang punggung, buat garis horizontal ketitik E.
B - B2  = 1/6 lingkar leher ditambah 1 cm.

Hubungkan titik B1 dengan B2 seperti gambar (leher belakang).

C - C1 = 5cm, hubungkan ke titik B2 dengan garis putus-putus (garis bantu).

B2 dipindahkan ukuran panjang bahu melalui garis bantu diberi nama titik B3

B3 - B4  = 1 cm, samakan ukuran B2 ke B4 dan dihubungkandengan garis tegas.
B1 - G    = ½ panjang punggung ditambah 1 cm, buat garis horizontal kekiri dan beri nama titik H.
B1 - G1  = 9 cm.
G1 - F1   = ½ lebar punggung (buat garis batas lebar punggung).

Bentuk garis lingkar kerung lengan belakang mulai dari titik B4 menuju F1 terus ke F seperti gambar.

D - D1   = ¼ ukuran lingkar pinggang ditambah 3 cm (besar lipit kup) dikurang 1 cm.
D - D2   = 1/10 lingkar pinggang.
D2 - D3 = 3 cm (besar lipit kup).

Dari D2 dan D3 dibagi 2, dibuat garis putus-putus sampai kegaris badan (G dan H) diukur 3 cm kebawah, dihubungkan dengan titik D2 dan D3 menjadi lipit kup.

D - D1 = ¼ ukuran lingkar pinggang ditambah 3 cm.

D1 dihubungkan dengan F, menjadi garis sisi badan bagian belakang.

Keterangan pola bagian muka

A - A1 = 1/6 lingkar leher ditambah 1 cm.
A - A2 = 1/6 lingkar leher ditambah 1,5 cm.

Hubungkan titik A1 dengan A2 seperti gambar (garis leher pola muka).

A1 - C2 = ukuran panjang bahu.
A2 - A3 = 5 cm.
A3 - F2 = ½ lebar muka.

Hubungka titik C2 ke F2 terus ke F seperti gambar (lingkar kerung lengan bagian muka).

E - E1 = 2 cm (sama besarnya dengan ukuran kup sisi).
E1 - E4 = ¼ lingkar pinggang ditambah 4 cm (3 cm besar lipit kup dan 1 cm untuk membedakan pola muka dengan belakang).

E1 - E2 = 1/10 lingkar pinggang.
E2 - E3 = 3 cm (besar lipit kup).

E2 dan E3 dibagi dua dibuat garis putus-putus sampai kegaris tengah bahu.

A2 - J = ukuran tinggi dada.

Dari J dibuat garis sampai ke J1.

J1 - J2 = 2 cm, lalu dihubungkan dengan titik E2 dan E3 membentuk lipit kup.

F - I = 9 cm, lalu dihubungkan dengan garis putus-putus ke titik J1.

J1 - K = 2 cm.

Dari I ke I1 dan I2 diukur masing-masing 1 cm, lalu hubungkan dengan titik K.

I1 - K = I2 - K, yang dijadikan patokan panjang adalah ukuran I1 ke K.

E4 dihubungkan dengan I2 dan titik I1 dengan F, menjadi garis sisi badan bagian muka.

Artikel terkait :

  1. Alat yang diperlukan dalam menggambar pola busana (1) 
  2. Cara Mengambil Ukuran Pola Baju Wanita Dewasa (2) 
  3. Pola Dasar Lengan (4) 
  4. Pola Dasar Rok 
  5. Pola dasar pakaian wanita dewasa sistem sederhana
  6. Belajar cara mendisain Busana sendiri (1)










Alat yang diperlukan dalam menggambar pola busana (1)

1. Pita ukuran (cm)

Pita ukuran (cm), digunakan untuk mengambil ukuran badan seseorang yang akan membuat busana atau ukuran model, disamping itu pita ukuran juga dipakai untuk menggambar polabpakaian dan juga digunakan pada waktu penyesuaian pola. Pita ukuran (cm) ada beberapa macam yakni ada yang menggunakan ukuran centimeter dan ada yang ukuran inchi bahkan ada yang menggunakan kedua ukuran tersebut. Pita ukuran (cm) yang baik terbuat dari serbuk kaca atau terbuat dari bahan yang lemas seperti plastik, tepinya tidak bertiras, tidak boleh meregang, garis-garis dan angka kedua permukaan memiliki ukuran yang dicetak dengan jelas, dan letak garis ukuran tepat pada tepi pita ukuran.


2. Penggaris

Untuk menggambar pola busana diperlukan penggaris/rol dressmaker dengan bentuk yang berbeda-beda. Penggaris lurus, digunakan untuk membuat garis lurus. Penggaris lengkung digunakan untuk membuat garis-garis melengkung seperti garis lingkar leher, lingkar kerung lengan, krah dan garis sisi rok. Sedangkan penggaris segi tiga siku-siku digunakan untuk membentuk garis sudut, seperti garis badan dan tengah muka, garis badan dan tengah belakang serta garis lebar muka dan garis lebar punggung.




3. Kertas Pola (buku pola atau buku kostum)

Kertas pola (buku pola atau buku kostum) merupakan tempat menggambar pola. Kertas pola merupakan alat penting untuk menggambar pola. Kertas yang biasa digunakan untuk menggambar pola dengan ukuran centimeter adalah kertas dorslag, kertas karton manila atau kertas koran. Buku pola digunakan untuk menggambar pola busana dengan ukuran skala. Buku pola yang baik berukuran folio kertasnya bewarna putih, tebal dan halaman terdiri dari kertas bergaris dan kertas polos dengan letak yang berselang-seling. Lembar halaman bergaris diperlukan untuk mencatat ukuran dan mencatat keterangan pola yang dibuat. Lembaran halaman tidak bergaris (polos) digunakan untuk menggambar pola dengan ukuran skala.

4. Skala

Skala atau ukuran perbandingan, adalah alat ukur yang digunakan untuk menggambar pola di buku pola. Skala ada beberapa macam yakni ada yang menggunakan ukuran satu berbanding dua, satu berbanding empat, satu berbanding enam dan satu berbanding delapan. Skala yang baik terbuat dari kertas yang agak tebal seperti kertas karton dan berbentuk segi panjang, dan letak garis ukuran tepat pada tepi skala. Tepinya tidak bertiras, kedua permukaan memiliki ukuran skala yang berbeda salah satu diantaranya ukuran skala satu berbanding empat, karena skala ukuran ini sering digunakan didalam menggambar pola busana.

5. Pensil dan bool point

Pensil digunakan untuk menggambar pola di buku pola atau di kertas pola. Pensil yang baik digunakan untuk menggambar pola ada beberapa macam yakni pensil terbuat dari graphite, pensil ini bagus digunakan dan mempunyai ukuran yang berbeda. Untuk yang agak keras dengan kode H / HB pensil ini tulisannya jelas dan mudah dihapus jika terjadi kesalahan. Pensil ini digunakan untuk menggambar garis-garis pola, setelah polanya selesai dibuat, garis dengan pensil ini dipertajam dengan pensil bewarna. Pensil bewarna merah untuk garis pola bagian muka dan pensil bewarna biru untuk garis pola bagian belakang. Garis bantu pola di pertajam dengan bollpoin warna hitam.

6. Penghapus (Eraser)

Penghapus perlu disediakan sewaktu menggambar pola, penghapus digunakan untuk membersihkan goresan pola yang salah. Penghapus yang baik adalah yang bewarna hitam terbuat dari karet yang lemas, dengan menggunakan penghabus ini goresan-goresan yang salah akan menjadi hilang dan tidak meninggalkan bekas sampai mendapatkan hasil yang memuaskan.

7. Jarum

Jarum pentul yang baik terbuat dari baja dan berukuran panjang 3 s.d 4 cm. Bentuk jarum pentul / jarum penyemat yang dipergunakan pada pembuatan pola adalah jarum pentul yang baik yaitu ujungnya runcing dan terdapat pegangan mutiara dipangkalnya, sehingga mudah dalam menggunakannya.


Senin, 24 Mei 2010

Tips cara menulis pendahuluan / latar belakang penelitian

Dalam memulai menulis suatu karya ilmiah tentunya kita perlu menyampaikan sebuah latar belakang penelitian atau pendahuluan. Nah bagi yang kesulitan dalam menyusun latar belakang / pendahuluan suatu karya ilmiah, tips dari saya ini semoga bisa membantu kalian :






1. Identifikasikan mengenai fenomena atau gejala obyek yang akan diteliti 
Misal penelitian tentang pelayanan publik : fenomenanya : adanya keluhan masyarakat tentang lamanya pengurusan izin, maraknya pemberitaan tentang adanya pungli di badan pelayanan publik

2. Lakukan analisis secara teoritis
Misal : pelayanan publik menurut .... adalah ....harus transparan, tepat waktu, dst....

3. Lakukan analisis empiris terhadap oyek
jika secara teorinya seperti tersebut diatas, maka benar tidak kondisi dilapangan? jelaskan kondisi pelayanan di badan pelayanan publik yang mau diteliti seperti apa?

4. Temukan masalahnya
Misal : masalahnya adalah kinerja pelayanan kurang baik

5. Uraikan kenapa perlu untuk diteliti dan seberapa penting untuk diteliti
Misal : perlu diteliti untuk memperbaiki kinerja pelayanan publik

Nah.... jadi deh!... gampangkan? semoga bermanfaat!



Kamis, 20 Mei 2010

Cara menjahit kebaya silang tapis lengan lebar















Cara membuat pola 

  • Buatlah pola dasar depan dan belakang hingga 25 cm dibawah pinggul. Buatlah pola depan lengkap bagian belakang kanan kiri
  • Gambarlah model silang tapis pada pola depan. Perpanjang bagian bawah 20 cm dari pinggul, buatlah pola garis agak miring didepan  



















  • Gambarlah leher silang tapis pada pola depan, dan gambar juga kamisonya yang terlihat sedikit pada bagian dalam dada, kemudian pisahkan masing-masing  


















  • Buat lengan lebar sesuai ukuran. Mulai dari siku dibentuk melebar, panjangnya melebihi ujung jari kemudian kutip dan pisahkan


















  • Rancanglah pola kamisol yang sudah dikutip dan yang sidah dipisahkan diatas kainnya.   Karena model kamisol ini bertali, maka panjang talinya sesuai panjang tali depan dan + belakang yang sudah digambar. Panjangnya tidak boleh ditambah atau dikurangi dan tempatnya tidak boleh digeser.



















Rancanglah semua pola diatas kainnya
X-X  lebar kain 55 cm x 2 = 110 cm
X-Z  Panjang kain 155 cm
LL    Lapisan leher
LD    Lapisan Dada
LDB  Lapisan dada bawah




CARA MENJAHIT 
  • Obraslah semua potongan kain yang akan dijahit
  • Jahitlah kupnat depan dan belakang
  • Kampuhlah jahitan bahu depan dengan bahu belakang
  • Sambunglah kain lapisan leher dengan kain lapisan dada menjadi satu
  • Pasanglah kain lapisan dari leher sampai kebawah keliman kiri, jahitan harus pas tidak boleh ada yang lebih panjang atau lebih pendek, kemudian tindas kain lapisan dengan mesin 1 mm dari sambungan
  • Aturlah tiras kain lapisan dengan jelujur, kemudian dijahit dengan tusuk soom dan langsung setrika supaya rapi dan licin
  • Tumpuklah kain dada kanan di bagian atas dan kain dada iri dibagian bawah, letakkan tepat digaris tengah dada supaya bertumpuk, jelujur agar tidak berubah sedikitpun.
  • Buatlah 4 tanda titik tempat rumah kancing yang akan dibuat dan tempat kancing dipasang
  • Buka jelujuran tengah dada. Kampuhlah jahitan sisi badan dan setrika kampuhnya sambil disibakkan hingga terbelah 2
  • Jahitlah keliman bawah dengan tusuk soom
  • Kampuhlah jahutan lengan kanan dan kiri, jahit keliman ujung lengan dengan tusuk soom
  • Pasanglah lengan kanan kiri pada kerung lengan badan
  • Buatlah rumah kancing dan pasanglah 4 kancingnya pada tanda yang sudah dibuat tadi

Artikel terkait :


Pemilihan lokasi industri primer berdasarkan teori webber



Menurut teori Weber pemilihan lokasi industri didasarkan atas prinsip minimisasi biaya. Weber menyatakan bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja di mana penjumlahan keduanya harus minimum (least cost location). Tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri, yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan kekuatan aglomerasi atau deaglomerasi. Dalam menjelaskan keterkaitan biaya transportasi dan bahan baku Weber menggunakan konsep segitiga lokasi atau locational triangle untuk memperoleh lokasi optimum. Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar.
 




 
Segitiga diatas memperlihatkan bagaimana cara meminimalkan biaya transportasi. Memperhitungkan berat bahan baku = w (S1) ton yang akan ditawarkan di pasar M, w (S1) dan w (S2) ton material yang berasal dari masing-masing S1 dan S2 yang diperlukan. Masalahnya berada dalam mencari lokasi pabrik yang optimal P terletak di masing-masing jarak d (M), d (S1) dan d (S2). Beberapa metodologi dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah seperti menggambarkan sebuah analogi ke dalam sistem bobot dan pulleys (Varignon's solusi) atau menggunakan trigonometri. Cara lain yang biasanya dipilih oleh para ahli geografi adalah dengan SIG.
Teori Lokasi Weber ini bisa menjelaskan dengan sangat baik mengenai indutri berat mulai revolusi industri sampai dengan pertengahan abad dua puluh. Bahwa kegiatan yang lebih banyak menggunakan bahan baku cenderung untuk mencari lokasi dekat dengan lokasi bahan baku, seperti pabrik alumunium lokasinya harus  dekat lokasi tambang dan dekat dengan sumber energi (listrik). Kegiatan yang menggunakan bahan baku yang ada di mana-mana, seperti air, cenderung dekat dengan lokasi pasar. Untuk menilai masalah ini, Weber mengembangkan material index  yang diperoleh dari berat input dibagi berat dari produk akhir (output). Jika material indexnya lebih dari 1 maka lokasi cenderung kearah dekat dengan bahan baku, jika kurang dari 1 maka penentuan lokasi industri cenderung  mendekati pasar.
Industri primer adalah Industri yang menghasilkan barang-barang tanpa pengolahan lebih lanjut sehingga bentuk dari bahan baku/mentah masih tampak. Contohnya : industri pengasinan ikan, penggilingan padi, anyaman.  Jadi industri primer ini aktivitasnya lebih banyak menggunakan bahan baku,  sehingga menurut teori webber lokasi industrinya yang tepat adalah dekat dengan bahan baku.
Dan jika dihitung berdasarkan teori material indexnya weber misal : industri pengasinan ikan, berat input (ikan segar) lebih berat dari berat ikan asin jadi material idexnya lebih dari 1,  maka menurut webber untuk menghemat biaya transportasi dan untuk mendapatkan keuntungan maksimal maka lokasi industrinya yang tepat adalah yang dekat dengan bahan baku.



Selasa, 18 Mei 2010

Tips cara menghilangkan bau cat

Rumah atau perabot yang baru dicat akan berbau dan bisa mengganngu kenyamanan. Untuk menghilangkan bau cat tesebut, ambillah sebuah piring, isi dengan air yang dicampur 1 sendok makan cuka dan irisan 1 butir bawang merah. Letakkan piring tadi didalam rumah atau didekat perabot yang baru dicat. Maka bau cat tadi akan segera menghilang.
SELAMAT MENCOBA !



Artikel terkait :
Tips cara menghilangkan bau tengik pada stoples
Tips Cara Menghindari Penipuan di Internet
Cara mencari kawan dan membuat orang lain menyukai anda

Tips cara menghilangkan bau tengik pada stoples



Stoples atau kaleng yang sudah lama tidak dipakai sering berbautengik atau tidak sedap. Untuk menghilangkannya masukkan selembar kecil kertas koran kedalam stoples kemudian bakar kertas koran tadi. Tutup sebentar kira-kira 4 sampai 5 menit. Selanjutnya buka tutupnya dan bersihkan abu didalam stoples/kaleng tadi. Maka bau tengik akan segera hilang.
SELAMAT MENCOBA !

Menghias pakaian dengan tusuk hias

Untuk membuat hiasan pada permukaan kain digunakan tusuk hias. Kegiatan ini disebut juga dengan teknik sulaman yaitu teknik membuat ragam hias pada permukaan kain dengan benang. Benang tersebut diatur secara dekoratif pada permukaan kain dengan jalan menusukkan benang dengan bermacam-macam cara. Macammacam tusuk ini dinamakan dengan tusuk hias. Tusuk hias terdiri atas dua kelompok yaitu tusuk hias dasar dan tusuk hias variasi. Tusuk hias dasar yaitu tusuk-tusuk yang merupakan dasar untuk membuat tusuk hias variasi. Tusuk variasi yaitu tusuk yang berasal dari variasi tusuk hias dasar baik dengan memvariasikan arah, jarak dan sebagainya sehingga menghasilkan bermacam-macam tusuk dengan gaya yang berbeda.






A. TUSUK HIAS DASAR

Tusuk hias dasar ada tiga belas macam yatu :

1) Tusuk jelujur
yaitu tusuk yang mempunyai arah horizontal ukuran dan jarak turun naik tusuk diatur sama panjang.





2) Tusuk veston
yaitu tusuk yang mempunyai dua arah yaitu arah vertikal dan arah horizontal, kaki tusuk arah vertikal dan arah horizontal mempunyai pilinan






3) Tusuk flanel
yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal dan pada bagian atas dan bagian bawah tusuk bersilang






4) Tusuk batang
yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal dan setengah dari ukuran tusuk masing-masing saling bersentuhan





5) Tusuk pipih
yaitu tusuk yang dibuat turun naik sama panjang dan menutup seluruh permukaan ragam hias.








6) Tusuk rantai
yaitu tusuk mempunyai arah horizontal atau vertikal dimana masing-masing tusuk saling tindih menindih sehingga membentuk rantai-rantai yang sambung menyambung.







7) Tusuk silang
yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal dan pada garis tengahnya ada persilangan antara tusuk bagian atas dan tusuk bagian bawah.






8) Tusuk biku
yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal ke kiri dan ke kanan







9) Tusuk palestrina
yaitu tusuk mempunyai arah horizontal dan setiap tusukan mempunyai tonjolan atau buhulan








10) Tusuk kepala peniti
yaitu tusuk yang mempunyai pilihan pada permukaan kain dan menutup semua permukaan ragam hias.







11) Tusuk tikam jejak
yaitu tusuk yang mempunyai arah horizontal dan setengah dari ukuran tusuk saling bersentuhan sehingga pada permukaan kelihatan seperti setikan mesin.








12) Tusuk balut
yaitu tusuk yang mempunyai arah diagonal yang dilakukan di atas benang lain atau pada pinggir ragam hias yang dilobangi.









13) Tusuk Holben
yaitu tusuk yang mempunyai arah horizontal dan vertikal dan jarak turun naik tusuk diatur sama panjang sehingga berbentuk jajaran.







B. TUSUK HIAS VARIASI

 yaitu tusuk yang merupakan variasi dari tusuk-tusuk dasar, variasi tusuk-tusuk dasar tersebut dapat dilakukan dengan merubah arah, ukuran, jarak tusuk atau mengkombinasikan satu tusuk dengan tusuk yang lain sehingga dari satu tusuk dasar dapat menghasilkan bermacam-macam tusuk variasi yang mempunyai nama tersendiri misalnya variasi dari tusuk silang disebut tusuk silang ganda, variasi dari tusuk rantai tusuk rantai terbuka atau tusuk tulang ikan, variasi tusuk pipih disebut long and short stich, variasi tusuk flanel disebut tusuk chevron dan lainnya. Berikut beberapa contoh tusuk hias variasi :

Variasi tusuk flanel





Variasi tusuk holben







Analisis Faktor Konfirmatori Vs Analisis Komponen Utama (bag 7)

Misalnya kita ingin mengukur Ability dan Aspiration dari karyawan. Kedua variabel tersebut bersifat unobservable, sehingga perlu dikembangkan indikator sebagai pengukurnya. Untuk mengukur Ability dikembangkan 4 indikator, yaitu X1 s/d X4, dan untuk mengukur Aspiration dibuat dua indikator, yaitu X5 dan X6. Permasalahannya : Apakah benar X1 s/d X4 merupakan pengukur Ability yang valid dan reliabel ? Demikian juga : Apakah benar X5 dan X6 merupakan alat ukur Aspiration yang valid dan reliabel ?

Untuk itu, perlu dilakukan konfirmasi lebih lanjut, yaitu memeriksa validitas dan reliabilitasnya. Hal ini dapat dilakukan dengan Analisis Faktor, sehingga dinamakan Analisis Faktor Konfirmatori. Jadi pada prinsipnya kita hanya akan melakukan konfirmasi berdasarkan teori atau konsep yang sudah ada terhadap keakuratan (valid dan reliable) instrumen yang kita buat. Secara visual dapat dilihat pada gambar berikut.


Untuk lebih memperjelas aplikasinya, dapt dilihat ilustrasi berikut.


ILUSTRASI

Suatu penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik karyawan. Bilamana terdapat beberapa kelompok karaktersitik, maka pada setiap kelompok ingin diketahui faktor apa yang dominan berpengaruh terhadap kinerjanya (perform). Variabel yang diamati adalah pengembangan karir, kepuasan kerja dan kinerja karyawan. Instrumen penelitian untuk mengukur variabel-variable tersebut adalah sebagai berikut.


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Data yang diperoleh seperti tersimpan dalam lember kerja softwrae SPSS.
Indikator dari variabel pengembangan karir, dilakukan analisis faktor hasilnya (sebagian output SPSS) disajikan sebagai berikut.


Hasil analisis faktor menunjukkan bahwa pada terdapat 2 faktor yang memiliki eigen value > 1, sehingga dapat dikatakan terdapat dua faktor yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen untuk mengukur variabel pengembangan karir tidak valid (unidinemsional). Setelah ditelusuri ternyata indikator X1.1 dan X1.2 memiliki loading faktor yang besar pada faktor 2 (di dalam oput komputer disebut componetn 2). Indikator inilah yang menyebabkan instrumen tidak valid. Oleh karena itu, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan cara membuang indikator tersebut.

Hasil analisis faktor menunjukkan bahwa hanya ada satu faktor yang nilai eigen valuenya > 1. Dengan demikian instrumen dianggap valid (unidimensional), kemudian skor faktor disimapan, dan itulah wujud dari data pengembangan karir sebagai variabel komposit. Dilihat dari besarnya loading faktor, maka indikator X1.5 adalah tertiggi, hal ini menunjukkan bahwa pengembangan karir paling besar (dominan) ditentukan oleh X1.5 (penghargaan dari pimpinan terhadap prestasi karyawan). Data ini selanjutnya dapat digunakan untuk berbagai analisis lanjutan, regresi, cluster, analisis jalur, dll.

2. Analisis Komponen Utama


Analisis Komponen Utama atau Principle Component Analysis bermula dari tulisan Karl Pearson pada tahun 1901 untuk variabel non-stokastik. Analisis ini kemudian dirampatkan untuk variabel stokastik oleh Harold Hotelling pada tahun 1933. Analisis ini merupakan analisis tertua dan banyak digunakan dalam analisis multivariat. Perhitungan dalam analisis ini pada waktu tersebut merupakan pekerjaan yang sukar walaupun hanya menggunakan beberapa variabel. Analisis ini baru berkembang penggunaannya setelah tersedianya fasilitas komputasi elektronik.

Analisis Komponen Utama biasanya digunakan untuk:

(1) Identifikasi variabel baru yang mendasari data multi variabel
(2) Mengurangi banyaknya dimensi himpunan variabel yang biasanya terdiri atas variabel yang banyak dan saling berkorelasi menjadi variabel-variabel baru yang tidak berkorelasi dengan mempertahankan sebanyak mungkin keragaman dalam himpunan data tersebut
(3) Menghilangkan variabel-variabel asal yang mempuyai sumbangan informasi yang relatif kecil.

Variabel baru yang di maksud di atas disebut komponen utama, yang berciri

(1) Merupakan kombinasi linier variabel-variabel asal
(2) Jumlah kuadrat koefisien dalam kombinasi linier tersebut bernilai 1
(3) Antar variabel tidak berkorelasi (saling bebas atau independen)
(4) Antar variabel mempunyai ragam berurut dari yang terbesar ke yang terkecil.

Variabel baru yang disebut komponen utama ini bersifat unobservable variable dan disebut variabel latent, sedangkan variabel asal (X) yang membentuk komponen utama tersebut adalah observable variable disebut variabel manifest (indikator).
Berikut dijelaskan konsep-konsep yang berkaitan dengan pembentukan skor komponen utama pada analisis komponen utama. Misal terdapat p variabel X, yaitu X1, X2, ..., Xp, maka dapat dibuat kombinasi linier:

K1 = a11X1 + a21X2 + ... + ap1Xp
K2 = a12X1 + a22X2 + ... + ap2Xp
.
.
Kp = a1pX1 + a2pX2 + ... + appXp

Dalam bentuk catatan matriks ditulis: K = AX

Ada 3 metode yang digunakan untuk menentukan banyaknya komponen utama, salah satunya adalah : Proporsi kumulatif dari keragaman total. Kriteria ini paling banyak digunakan dan dapat digunakan untuk matriks kovariansi atau korelasi pada AKU. Kriteria dalam metode ini adalah menspesifikasikan sebelumnya persentase minimum dari keragaman total yang sesuai (kira-kira 90%) dan jumlah komponen utama yang terkecil yang memenuhi spesifikasi tersebut yang dipilih. Jika λ1 ≥ λ2 ≥ ... ≥ λp adalah nilai eigen dari matriks kovariansi (korelasi), maka proporsi kumulatif dari k nilai eigen pertama adalah :






Download Pengukuran Variabel Bagian 1 s/d 7 gratis KLIK DISINI

ARTIKEL TERKAIT :
  1. Pengukuran Variabel Laten (bag 1) 
  2. Konsep, Variabel dan Dimensi (bag 2) 
  3. Pengukuran Variabel (bag 3)
  4. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen (bag 4)
  5. DATA Variabel Latent (bag 5)
  6. Analisis Faktor (bag 6)
  7. Analisis Faktor Konfirmatori Vs Analisis Komponen Utama (bag 7)
  8. Tips cara membuat pendahuluan / latar belakang penelitian